Psychologi Projection: Menilai Orang Lain Dari Tekanan Sendiri
ilustrasi
Oleh Mustamin Raga
Penulis, penulis buku dan seorang essais
ADA orang yang begitu mudah mencurigai niat orang lain, bahkan ketika tidak ada sesuatu yang cukup kuat untuk dijadikan alasan. Ia melihat tindakan seseorang bukan dari apa yang sungguh-sungguh dilakukan, melainkan dari kemungkinan buruk yang dibangun oleh pikirannya sendiri. Kebaikan dicurigai sebagai siasat, ketulusan dianggap memiliki agenda, sementara sebuah tindakan sederhana bisa ditafsirkan sebagai bagian dari rencana tersembunyi. Seolah-olah tidak ada tindakan manusia yang benar-benar lahir dari niat baik tanpa disertai kepentingan tertentu.
Menariknya, kecurigaan semacam ini sering kali memiliki hubungan erat dengan cara seseorang memandang dirinya sendiri. Ia menggunakan ukuran pribadinya untuk membaca perilaku orang lain. Jika dirinya berada dalam kesempatan yang sama, mungkin ia akan mengambil keuntungan, mencari celah, memanfaatkan keadaan, atau melakukan sesuatu demi kepentingannya.
Karena itu, ketika orang lain berada dalam posisi tersebut, ia dengan mudah membayangkan bahwa orang itu akan melakukan hal serupa. Ia lupa bahwa tidak semua orang memiliki cara berpikir, standar moral, dan batas-batas etika yang sama dengannya.
Dalam psikologi, kecenderungan semacam ini dikenal sebagai *Psychological projection* atau proyeksi psikologis. Seseorang memindahkan kecenderungan, dorongan, atau motif yang ada dalam dirinya kepada orang lain. Apa yang menjadi kemungkinan dalam pikirannya sendiri diperlakukan seolah-olah merupakan kenyataan dalam diri orang yang sedang ia nilai. Ia sesungguhnya sedang membaca orang lain menggunakan kamus yang disusun dari pengalaman dan kecenderungan pribadinya sendiri.
Kecenderungan ini juga berhubungan dengan apa yang dalam psikologi sosial dikenal sebagai *false consensus effect*, yakni kecenderungan menganggap bahwa orang lain memiliki cara berpikir, sikap, dan perilaku yang kurang lebih sama dengan dirinya. Seseorang merasa bahwa apa yang dianggap wajar oleh dirinya pasti juga menjadi sesuatu yang wajar bagi orang lain. Padahal, manusia memiliki latar pengalaman, orientasi nilai, dan standar moral yang tidak selalu seragam.
Lalu, siapa yang lebih mudah terjebak dalam kecenderungan seperti ini?
Pertama, orang yang memiliki kecenderungan manipulatif. Mereka yang terbiasa mengatur keadaan demi keuntungan pribadi cenderung menganggap orang lain juga bekerja dengan cara serupa. Ia sulit mempercayai ketulusan karena dalam pengalaman pribadinya, tindakan manusia hampir selalu memiliki kepentingan tersembunyi. Baginya, kebaikan tanpa agenda terasa seperti sesuatu yang tidak masuk akal.
Kedua, orang yang memiliki standar moral tidak konsisten. Ia mengetahui apa yang benar dan salah, tetapi tidak selalu menjadikan pengetahuan itu sebagai pedoman perilaku. Karena terbiasa berkompromi dengan prinsipnya sendiri, ia mudah menganggap orang lain juga akan melakukan hal serupa. Integritas orang lain justru terasa asing baginya.
Ketiga, orang yang memiliki kepercayaan diri rapuh dan merasa terancam oleh kualitas positif orang lain. Prestasi orang lain bisa dianggap sebagai ancaman, ketulusan dicurigai sebagai pencitraan, dan keberhasilan dipandang sebagai hasil kedekatan atau permainan kepentingan. Kecurigaan menjadi semacam mekanisme untuk melindungi harga dirinya.
Keempat, orang yang membawa pengalaman buruk tanpa pernah benar-benar menyelesaikannya. Pernah dikhianati, dimanfaatkan, atau dikecewakan dapat membentuk kewaspadaan berlebihan. Ia kemudian menggunakan pengalaman masa lalunya untuk menafsirkan tindakan orang-orang yang sebenarnya berbeda. Orang baru diperlakukan dengan kecurigaan yang diwariskan dari kesalahan orang lama.
Kelima, orang yang memiliki empati rendah. Ia kesulitan memahami bahwa orang lain mempunyai pertimbangan, nilai, dan prinsip yang berbeda. Ia tidak mudah menempatkan diri dalam sudut pandang orang lain. Akibatnya, penilaian lebih banyak dibangun dari asumsi pribadi daripada usaha memahami keadaan orang yang sedang dinilai.
Keenam, orang yang terlalu lama hidup dalam kompetisi dan kalkulasi kepentingan. Dalam lingkungan yang segala sesuatunya diukur berdasarkan keuntungan, posisi, dan kekuasaan, seseorang bisa kehilangan kemampuan melihat ketulusan sebagai sesuatu yang wajar. Ia menganggap setiap tindakan pasti memiliki transaksi di belakangnya. Bahkan kebaikan pun harus dicari harga dan imbalannya.
Tentu, tidak semua orang yang curiga memiliki karakter-karakter tersebut. Ada kecurigaan yang lahir dari pengalaman, bukti, dan kewaspadaan yang rasional.
Namun demikian, persoalannya muncul ketika asumsi pribadi diperlakukan sebagai fakta. Kewaspadaan membutuhkan bukti, sedangkan prasangka sering kali hanya membutuhkan imajinasi. Yang pertama memberi ruang bagi pembuktian, sementara yang kedua kerap menjatuhkan vonis sebelum perkara diperiksa.
Di sinilah persoalannya menjadi menarik sekaligus memprihatinkan. Orang yang demikian biasanya memiliki persediaan kecurigaan yang jauh lebih banyak daripada persediaan kepercayaan. Ia lebih cepat menemukan kemungkinan buruk daripada mempertimbangkan kemungkinan baik.
Ketika seseorang membantu, ia mencari motif di balik bantuan itu. Ketika seseorang memberikan sesuatu, ia membayangkan imbalan yang mungkin sedang ditunggu. Bahkan ketika seseorang memilih diam, diam itu pun dapat ditafsirkan sebagai strategi menyembunyikan sesuatu.
Padahal, kehidupan manusia tidak sesempit ruang prasangka seseorang. Ada orang yang membantu karena memang ingin membantu. Ada yang memberi karena memiliki sesuatu untuk dibagikan. Ada yang bekerja dengan jujur karena baginya integritas bukan barang dagangan. Ada pula yang memilih tidak mengambil keuntungan meskipun kesempatan terbuka lebar di hadapannya. Mereka tidak sedang memainkan strategi moral. Mereka hanya memiliki prinsip yang tidak selalu dapat dipahami oleh orang yang terbiasa menghitung segala sesuatu berdasarkan kepentingannya.
Saya kira, akar persoalan ini bukan semata-mata terletak pada kebiasaan mencurigai orang lain, melainkan pada ketidakmampuan seseorang menerima kenyataan bahwa orang lain bisa memiliki kualitas moral yang berbeda, bahkan lebih baik daripada dirinya.
Ia kesulitan membayangkan seseorang yang tetap jujur ketika tersedia kesempatan untuk berbuat curang. Sulit memahami orang yang tidak mengambil keuntungan meskipun memiliki peluang. Bahkan tidak mudah menerima bahwa ada orang yang berbuat baik tanpa mengharapkan balasan.
Manusia memang tidak pernah sepenuhnya bebas dari subjektivitas. Kita membawa pengalaman, kepentingan, luka, dan prasangka ketika berhadapan dengan orang lain. Tetapi kedewasaan menuntut kita untuk tidak menjadikan seluruh isi kepala sebagai ukuran kebenaran. Sebab, orang lain bukanlah perpanjangan dari diri kita. Mereka memiliki kesadaran, pilihan, dan prinsip yang mungkin berbeda.
Barangkali, salah satu bentuk kedewasaan yang paling sederhana adalah kemampuan memberi kesempatan kepada orang lain untuk dinilai berdasarkan perbuatannya, bukan berdasarkan kemungkinan buruk yang kita bayangkan tentang diri sendiri.
Sebab, tidak semua orang akan melakukan apa yang mungkin kita lakukan ketika berada di posisi yang sama. Dan tidak semua keburukan yang kita bayangkan tentang orang lain benar-benar berasal dari diri mereka.
Makassar subuh hari, 31 Oktober 2026.
Berita Serupa yang Mungkin Anda Suka
-
Menjemput Takdir Sejarah Di Tanah Bersejarah
Oleh Mustamin Raga
(Penulis Buku Negara dalam Kemasan: Dari Brand Produk...
-
Propinsi Luwu Raya Janji Sang Proklamator ke Raja Luwu Opu Andi Djemma
Penulis Rusman Madjulekka
SPANDUK sepanjang 15 meter be...



